Senin, November 05, 2012

PEMBANGUNAN MASYARAKAT BERPENGETAHUAN


PEMABAHASAN

KERANGKA TEORI DAN KONSEP


A. Kerangka Teori Pembangunan
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, merupakan rangkaian upayauntuk mewujudkan manusian seutuhnya, baik sebagai insan maupun sebagaisumber daya pembangunan. Pembangunan manusia sebagai insan dan sumber daya pembangunan, adalah menekankan harkat, martabat, hak dan kewajibanmanusia. Pembangunan manusia sebagai insan tidak terbatas pada kelompokumur tertentu, tetapi berlangsung dalam seluruh kehidupan manusia.
Pengertian pembangunan sebagai suatu proses, akan terkait denganmekanisme sistem atau kinerja suatu sistem. Menurut Easton (dalam MiriamBudiardjo, 1985), proses sistemik paling tidak terdiri atas tiga unsur: Pertama,adanya input, yaitu bahan masukan konversi; Kedua, adanya proses konversi,yaitu wahana untuk ”mengolah” bahan masukan; Ketiga, adanya output, yaitusebagai hasil dari proses konversi yang dilaksanakan. Proses sistemik dari suatu sistem akan saling terkait dengan subsistem dan sistem-sistem lainnya termasuklingkungan internasional.

Proses pembangunan sebagai proses sistemik, pada akhirnya akanmenghasilkan keluaran (output) pembangunan, kualitas dari outputpembangunan tergantung pada bahan masukan (input), kualitas dari prosespembangunan yang dilaksanakan, serta seberapa besar pengaruh lingkungandan faktor-faktor alam lainnya. Bahan masukan pembangunan, salah satunyaadalah sumber daya manusia, yang dalam bentuk konkritnya adalah manusia. Manusia dalam proses pembangunan megandung beberapa pengertian yaitu manusia sebagai pelaksana pembangunan, manusia sebagai perencana pembangunan, dan manusia sebagai sasaran dari proses pembangunan.
Menurut Totok Mardikanto, pembangunan didefinisikan sebagai upayasadar dan terencana untuk melaksanakan perubahan-perubahan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dan perbaikan mutu hidup atau kesejahteraan seluruh warga masyarakat, terutama untuk jangka panjang.
Lionberger dan Gwin mendefinisikan pembangunan sebagai prosespemecahan masalah, baik masalah yang dihadapi oleh setiap aparat dalamsetiap jenjang birokrasi pemerintah, di kalangan peneliti dan penyuluh, maupunmasalah-masalah yang dihadapi oleh warga masyarakat.
Definisi pertama lebih menekankan pada masyarakat selaku penerima manfaat(beneficiaries) pembangunan. Sedangkan definisi kedua menyiratkanbahwa pembangunan tidak hanya untuk masyarakat, melainkan diperuntukkanpula bagi segenap stakeholder . Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa  pembangunan  bertujuan  merubah  “keadaan”  (rehabilitasi dan rekonstruksi—  pen) masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahanmasalah yang dihadapi. Maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan.

B. Kerangka Teori Masyarakat Berpengetahuan
Pembangunan sebuah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Society) adalah proyek perbaikan berkelanjutan (Continues Improvement), dan padaproses ini selalu ada tahapan "Uji Lab", semacam prototype awalan untuk pembuktian empirik sebuah konsep. Artinya proses membentuk masyarakatberpengetahuan itu sifatnya dinamis dan berkelanjutan antar generasi, setiapgenerasi akan mampu melihat bahwa pencapaian setiap zaman itu akanberbeda, bergantung pada kerja keras dan kemauan tiap generasi untukmencapainya. Sifat sabar adalah penyeimbang sikap kerja keras tadi, bahwasetiap proses itu harus dinikmati kinerjanya, hingga bisa merasakan hasilnya,selalu ada variabel ruang dan waktu. Dimana sebelum bergerak menjauh, harusada satu langkah awal kecil yang dijalankan.
Menurut Drucker (1994), knowledge society adalah sebuah masyarakat dari berbagai organisasi dimana secara praktis setiap tugas tunggal akan dilakukan dalam dan melalui sebuah organisasi. Ciri-ciri masyarakatberpengetahuan adalah:
 Mempunyai kemampuan akademik
 Berpikir kritis
 Berorientasi kepada pemecahan masalah
Mempunyai kemampuan untuk belajar meninggalkan pemikiran yang lama-lamadan belajar lagi untuk hal-hal yang baru
Mempunyai keterampilan pengembangan individu dan sosial (termasuk kepercayaandiri, motivasi, komitmen terhadap nilai-nilai moral dan etika, pengertian secaraluas akan masyarakat dan dunia) (Manuwoto, 2005)
Dalam masyarakat berpengetahuan, bukanlah individu yang berkinerja,tetapi organisasi yang berkinerja. Seorang dokter misalnya, tentu mempunyaibanyak pengetahuan. Tetapi dokter itu tidak dapat berfungsi tanpa pengetahuanyang diberikan oleh disiplin ilmu lainnya, yaitu fisika, kimia, genetika, dan lainsebagainya. Dokter itu tidak dapat berfungsi tanpa hasil-hasil tes yang dilakukanoleh para ahli laboratorium tes darah, X-ray (rontgen), scanning otak, dan lain-lain. Di sisi lain, berbagai keahlian tertentu, seperti seorang dokter bedah syaraf,contoh dari knowledge worker, hanya bisa dihasilkan dari sekolah formal. Dengan demikian pendidikan menjadi pusat dari masyarakat berpengetahuan dan sekolah merupakan institusi kuncinya. Pernyataan itu diperkuat oleh NoelDempsey (Minister for Education and Science, Ireland, 2004) bahwa untuk bisakompetitif dalam ekonomi berpengetahuan global (global knowledge economy),semua pengambil keputusan untuk publik harus fokus pada pendidikan sebagaifaktor kunci dalam memperkuat daya saing, lapangan kerja dan keterpaduansosial. Drucker (1994) memperkuat kesimpulan itu dengan menyatakan bahwapekerja berpengetahuan lebih mempunyai kesempatan memperoleh aksesterhadap pekerjaan dan posisi sosial melalui pendidikan formal (Drucker, 1994).
Tujuan utama dari pendidikan adalah untuk memberikan kepada setiaporang kesempatan untuk mengembangkan potensi dirinya sampai maksimum,baik sebagai individu maupun sebagai seorang anggota masyarakat. Seorangyang berpendidikan akan menjadi seseorang yang telah belajar bagaimanauntuk belajar, dan keseluruhan masa kehidupannya terus belajar, terutamamasuk dan keluar dari pendidikan formal (Drucker, 1994).
Transformasi dari struktur masyarakat yang ada, dengan pengetahuansebagai sumber daya utama untuk pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaandan sebagai faktor dari produksi, merupakan basis untuk menandai masyarakatmodern yang maju sebagai sebuah "masyarakat berpengetahuan." Dalam sebuah masyarakat berpengetahuan ukuran-ukuran lama dalam persainganseperti biaya tenaga kerja, sumbangan sumber daya dan infrastruktur digantikanoleh dimensi-dimensi seperti paten, penelitian dan pengembangan, sertaketersediaan pekerja berpengetahuan.
Untuk masyarakat berpengetahuan, jelas semakin banyak dibutuhkanpenguasaan pengetahuan, terutama pengetahuan tingkat lanjut. Pengetahuan itudibutuhkan oleh orang-orang yang pasca usia sekolah, dan kebutuhan itu terusmeningkat, di dalam dan melalui proses pendidikan yang tidak berpusat padasekolah tradisional, tetapi pendidikan berkelanjutan yang sistematik yang ditawarkan pada tempat kerja.

Dalam masyarakat berpengetahuan, akses terhadap kepemimpinanterbuka untuk semua orang. Akses terhadap kemahiran dari pengetahuan tidaklagi tergantung kepada perolehan pendidikan yang ditentukan pada usia tertentu. Pembelajaran akan menjadi alat dari individu yang tersedia baginya pada usiaberapa pun, karena begitu banyak keterampilan dan pengetahuan dapatdiperoleh dengan cara-cara pemanfaatan teknologi pembelajaran baru. Implikasilainnya adalah bahwa kinerja dari seorang individu, sebuah organisasi, sebuah industri atau sebuah negara dalam perolehan dan penerapan pengetahuan akanmeningkat menjadi faktor kunci persaingan untuk berkarir dan memperolehkesempatan dari para individu untuk berkinerja. Masyarakat berpengetahuan akan tak terelakkan menjadi jauh lebih kompetitif daripada masyarakat di masa-masa yang lalu. Dengan pengetahuan yang dapat diakses secara universal tidak ada alasan untuk tidak berkinerja. Tidak akan ada negara-negara miskin. Hanya akan ada negara-negara yang terabaikan.
Pusat kekuatan tenaga kerja dalam masyarakat berpengetahuan akanterdiri dari orang-orang dengan spesialisasi yang tinggi. Dalam dunia kerjaberpengetahuan, orang-orang dengan pengetahuan mempunyai tanggung jawabuntuk membuat dirinya dimengerti oleh orang-orang yang tidak mempunyai basispengetahuan yang sama. Sebenarnya investasi dalam masyarakatberpengetahuan bukanlah dalam mesin-mesin dan peralatan. Tetapi dalampengetahuan dari pekerja berpengetahuan. Tanpa itu, mesin-mesin yang sangatmaju dan canggih, tidak akan produktif.
Pengetahuan dalam masyarakat berpengetahuan haruslah sangatmempunyai spesialisasi untuk menjadi produktif. Ini mengakibatkan duapersyaratan baru: 1. pekerja berpengetahuan bekerja dalam kelompok-kelompok; dan 2. pekerja berpengetahuan harus mempunyai akses terhadapsebuah organisasi yang, dalam kebanyakan kasus, artinya pekerjaberpengetahuan harus menjadi pekerja dari sebuah organisasi.
Karena masyarakat berpengetahuan mensyaratkan sebuah masyarakatdari berbagai organisasi, yang organ sentral dan khususnya adalah manajemen.Semua organisasi itu membutuhkan manajemen apakah mereka menggunakanistilah itu atau tidak. Semua manajer mengerjakan hal yang sama apa pun bisnisdari organisasi mereka. Para manajer itu harus membawa orang-orang yangmasing-masing mempunyai pengetahuan yang berbeda, bersama untukberkinerja bersama. Intisari dari manajemen adalah membuat pengetahuanmenjadi produktif (Drucker, 1994).

C. Kerangka konsep tentang pembangunan masyarakat berpengetahuan
Sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalahbentukan dari tradisi yang menghargai tinggi pengetahuan, dalam artianpengetahuan (Knowledge) adalah komoditas yang setiap manusia berhak untukmengaksesnya, bukan hanya monopoli manusia yang sehari- harinya hidup diinstitusi pendidikan- penelitian formal. Pengetahuan adalah hak setiap orang,yang singkatnya, pendidikan adalah hak semua orang jika memang bertujuanuntuk membentuk yang namanya masyarakat berpengetahuan ( KnowledgeSociety).
Fakta yang terjadi sekarang ini bahwa negara-negara industri menjadimasyarakat berbasis pengetahuan. Timbul pertanyaan tentang peran teknologiinformasi dan komunikasi (TIK) dalam membangun "masyarakatberpengetahuan" yang inovatif dalam dunia yang berkembang. Sebuahkesimpulan sentral adalah bahwa TIK dapat memberikan kontribusi utamaterhadap pengembangan berkelanjutan, tetapi peluang ini akan diikuti oleh resikoutama. Sebagai contoh, negara-negara yang sangat lamban perkembangannyamenghadapi resiko yang besar dari keterasingan karena mereka sering kurangkemampuan sosial dan ekonomi yang dibutuhkan untuk mengambil kelebihandari inovasi dalam TIK. Negara-negara berkembang perlu mencari jalan untukmengkombinasikan kompetensi mereka dalam teknologi dan sosial yang ada, jika mereka ingin mengambil keuntungan dari banyak kelebihan potensial dari TIK.
Pembangunan masyarakat berpengetahuan adalah sebuah proses yang kompleks dalam mengkombinasikan unsur-unsur teknologi dan sosial (termasuk kompetensi sumber daya manusianya) dalam cara yang produktif, untuk menciptakan infrastruktur informasi nasional. Berbagai strategi untuk membangun infrastruktur informasi nasional haruslah lebih daripada pernyataan-pernyataan tentang apa yang harus dilakukan. Para pengambil keputusan harusberorientasi pada aksi dan dibiayai dengan tepat.
Untuk negara-negara berkembang, membangun "masyarakat berpengetahuan" yang inovatif melibatkan berbagai inisiatif dalam dua area utama - pembangunan infrastruktur TIK yang pokok, dan penciptaan kondisi-kondisi yang akan mendorong pembangunan berbagai kompetensi sosial dalam bidang-bidang tertentu. Indonesia sebagai negara agraris justru masih minim dalam penyediaan informasi dan pengetahuan praktis dan strategis yang relevandengan bidang pertanian. Padahal untuk mengangkat masyarakat agraris (petani) konvensional menjadi petani berpengetahuan adalah denganpenyediaan sistem repositori pengetahuan yang mudah dan merata dijangkau oleh masyarakat. Disini peran TIK dapat didayagunakan untuk tujuan pemberdayaan sumberdaya manusia yang berpengatahuan dan profesional(Seminar 2002, Seminar 2004, Seminar 2005). Level konsumsi informasi denganberbagai interaksi dengan melihat, membaca, mendengar, dan berbuat (byseeing, reading, hearing, and doing) berbasis TIK (Seminar 2002, Seminar 2004)harus diakomodir melalui perpustakaan. Investasi dalam infrastruktur TIK perludilakukan secara paralel dengan investasi dalam berbagai kompetensi sosialyang timbul dari infrastruktur sosial dan institusional, termasuk pendidikan danpengetahuan teknis, begitu juga dengan institusi-institusi politik, ekonomi,kultural, dan sosial di negara-negara berkembang. Namun demikian, investasipada akumulasi teknologi dan keterampilan tidak menjamin bahwa berbagai trategi untuk membangun "masyarakat berpengetahuan" yang inovatif akan efektif atau masuk akal.
Banyak kesempatan untuk semua negara di tahun-tahun mendatanguntuk memanfaatkan yang terbaik dari potensi yang ditawarkan oleh TIK dalammendukung sasaran pengembangan utama mereka. Hal itu berlaku untuksasaran pada peningkatan mutu kehidupan dan keberlanjutan lingkungan dinegara-negara industri. Itu juga berlaku untuk sasaran pada pengurangankemiskinan dan menyumbang pada pengembangan berkelanjutan di negara-negara terbelakang dan berkembang. Pemanfaatan berbagai sarana TIK secarainovatif bisa memberikan titik awal untuk pengembangan "masyarakatberpengetahuan" secara inovatif.
Peran potensial dari TIK di negara-negara berkembang: 1) TIKmerupakan sarana untuk pengembangan, tetapi penggunaan yang efektif mensyaratkan investasi dari kombinasi kompetensi sosial dan teknologi; 2)Pemanfaatan TIK akan memberikan keuntungan terhadap investasi yang jauhlebih baik; 3) Kemampuan untuk menggerakkan investasi dalam TIK danpemanfaatannya secara efektif berbeda pada masing-masing negaraberkembang; 4) Idealnya, investasi-investasi tersebut diusahakan simultan,tetapi bila tidak mungkin, investasi dalam kompetensi sosial seharusnyadiprioritaskan; 5) kemitraan yang baru dibutuhkan sehubungan dengan berbagaikoordinasi, mobilisasi investasi, mengatasi berbagai masalah sosial di negara-negara berkembang.
Tantangan untuk pengambil keputusan negara berkembang adalahmenciptakan kerangka kebijakan yang membangkitkan, mendukung, danmembebaskan kemampuan rakyat untuk memanfaatkan TIK untuk menghasilkanpengetahuan dan sumber daya lainnya yang bermanfaat.
Masyarakat Indonesia masih belum mencapai knowledge society. Lihatsaja tenaga kerja Indonesia yang mencari kerja di negara-negara lain, merekamenjadi buruh, pembantu rumah tangga, supir, bukan knowledge worker. Akibatnya mereka banyak diperlakukan dengan kasar, tidak adil, bahkan ada yang upahnya tidak dibayar. Sementara di dalam negeri, pemilihan kepala daerah saja menjadi ajang perkelahian. Berbagai kekerasan terjadi akibat hasutan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Disamping itu masyarakat masih ditimpa oleh berbagai bencana alam, bencana penyakit yangbanyak memakan korban jiwa. Mengapa semua itu terjadi ? Salah satunyaadalah akibat dari masyarakat kita tidak berpengetahuan, belum menjadiknowledge society.
Bila tenaga kerja kita sudah menjadi knowledge worker, mereka bisabekerja di kantor-kantor dengan upah yang tinggi, menjadi perawat di rumahsakit yang masih dibutuhkan di berbagai negara dengan bayaran yang tinggi. Bila masyarakat kita sudah berpengetahuan, mereka tidak mudah dihasut, tidakmudah dirayu dengan money politic. Mereka memilih para calon kepala daerahdengan kesadaran akan akibat yang timbul bila mereka memilih orang yangsalah. Masyarakat yang berpengetahuan sudah memiliki informasi gejala-gejala alam sebelum adanya bencana yang lebih dahsyat. Mereka sudah dapat menjaga lingkungan dengan lebih baik, agar kesehatan mereka terjaga. Mereka tidak tinggal diam bila pemerintahnya melakukan hal-hal yang merusaklingkungan, dan pemerintahnya tidak bisa memaksakan kehendaknya secarasemena-mena.
Menurut para pakar, salah satu kunci membangun knowledge society adalah melalui pendidikan. Selain pendidikan formal, informal dan non-formal,masyarakat pun memerlukan pendidikan berkelanjutan (life long education).







KESIMPULAN

Peningkatan kualitas sumber daya manusia, merupakan rangkaian upayauntuk mewujudkan manusia seutuhnya, baik sebagai insan maupun sebagaisumber daya pembangunan. Pembangunan manusia sebagai insan dan sumber daya pembangunan, adalah menekankan harkat, martabat, hak dan kewajiban manusia. Pembangunan manusia sebagai insan tidak terbatas pada kelompokumur tertentu, tetapi berlangsung dalam seluruh kehidupan manusia.
Benang merah dari definisi pembangunan ialah bahwa pembangunanbertujuan merubah “keadaan” (rehabilitasi dan rekonstruksi— pen) masyarakat kearah yang lebih baik dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi. Maka dalam hal ini masyarakat penting untuk dilibatkan.
Sebuah masyarakat berpengetahuan ( Knowledge Society) adalah bentukan dari tradisi yang menghargai tinggi pengetahuan, dalam artianpengetahuan (Knowledge) adalah komoditas yang setiap manusia berhak untuk mengaksesnya, bukan hanya monopoli manusia yang sehari- harinya hidup diinstitusi pendidikan- penelitian formal. Pengetahuan adalah hak setiap orang,yang singkatnya, pendidikan adalah hak semua orang jika memang bertujuanuntuk membentuk yang namanya masyarakat berpengetahuan ( KnowledgeSociety).
Pembangunan sebuah masyarakat berpengetahuan (Knowledge Society)adalah proyek perbaikan berkelanjutan (Continues Improvement), dan padaproses ini selalu ada tahapan "Uji Lab", semacam prototype awalan untukpembuktian empirik sebuah konsep. Artinya proses membentuk masyarakatberpengetahuan itu sifatnya dinamis dan berkelanjutan antar generasi, setiapgenerasi akan mampu melihat bahwa pencapaian setiap zaman itu akanberbeda, bergantung pada kerja keras dan kemauan tiap generasi untuk mencapainya.






DAFTAR PUSTAKA


Abdul Kadir & Terra CH. 2003.
Pengenalan Teknologi Informasi
. Andi Offset.YogyakartaBudi Sutejo Dharma, S.Kom. 2002.
e-Educationn
. Andi Offset. Yogyakarta.Dedi Supriadi, Prof. DR, 2004. Membangun Bangsa Melalui Pendidikan, PT. RemajaRosdakarya. Bandung.Zamroni. DR. 2001.
Paradigma Pendidikan Masa Depan
. Bigraf Publishing. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar